"Kasus Hantavirus kembali muncul di Indonesia dengan 23 kasus dan tiga kematian. Anggota DPR RI Netty Prasetiyani mendesak pemerintah memperkuat sistem deteksi dini dan edukasi kesehatan masyarakat. Simak penjelasan lengkap dan langkah pencegahannya di sini."
![]() |
| img: Kasus Hantavirus di Indonesia |
Jakarta – Meningkatnya kasus Hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia memicu kewaspadaan nasional. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mendesak pemerintah untuk segera memperkuat sistem deteksi dini dan edukasi kesehatan masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, dalam tiga tahun terakhir terdapat 23 kasus infeksi Hantavirus di sembilan provinsi, dengan tiga di antaranya berujung kematian.
“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” ujar Netty di Jakarta.
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus, melalui udara atau debu yang terkontaminasi urine, kotoran, maupun air liur tikus. Gejalanya sering menyerupai flu biasa — demam tinggi, tubuh lemas, nyeri otot, mual, hingga sesak napas — sehingga kerap mengecoh masyarakat.
Netty menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan dan sanitasi sebagai langkah pencegahan. Permukiman padat, sampah yang tidak terkelola, serta sanitasi buruk menjadi tempat ideal bagi tikus pembawa virus.
Ia meminta Kemenkes memperkuat surveillance epidemiologi dan kesiapan fasilitas kesehatan, terutama di daerah yang sudah teridentifikasi memiliki kasus. Selain itu, tenaga kesehatan perlu dilatih agar mampu mengenali gejala dan melakukan diagnosis dini.
“Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” pungkas Netty.

