Dalam waktu kurang dari dua jam, dentuman balasan Iran mengguncang fondasi supremasinya.
Rudal balistik dan drone menghantam Israel, sekaligus meluluhlantakkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, UEA, hingga markas Armada Kelima di Bahrain.
Riyadh berguncang, Abu Dhabi bergetar, dan seluruh Teluk gempar. Mitos "keamanan mutlak" Israel dan superioritas militer Amerika hancur dalam sekejap.
Apa yang semula konflik nearby kini meledak menjadi benturan global.
Standar ganda Barat yang busuk kembali terpampang nyata.
Mereka yang berpura-pura sebagai "penjaga tatanan dunia" adalah perusak aturan itu sendiri.
Israel dan Amerika bebas menyerang, membunuh, dan menghancurkan; tapi begitu Iran membela diri, mereka langsung dicap teroris, dituduh mengganggu stabilitas. Hipokrasi ini sudah terlalu lama, terlalu kotor, dan tak lagi bisa disembunyikan!
Yang lebih memalukan: sikap pengecut dunia internasional yang pasif menyaksikan agresi awal, seolah pembantaian adalah tontonan biasa.
Begitu Iran membalas, narasi berubah histeris menjadi "ancaman international". Padahal, dalilnya jelas—api neraka ini dinyalakan oleh Israel dan Amerika. Jika konflik meluas, dan semua tanda mengarah ke sana, jangan salahkan Iran.
Salahkan para agresor pongah yang haus darah!
Timur Tengah kini di ambang perang dahsyat. Tapi dampaknya tak lagi regional-ekonomi international terancam runtuh, harga minyak meledak, rantai pasok dunia kacau, dan jutaan nyawa sipil jadi korban arogansi segelintir negara yang merasa di atas hukum, di atas ethical, bahkan di atas Tuhan.
Ini bukan lagi konflik biasa. Ini adalah pengkhianatan terbuka terhadap peradaban manusia. Agresi Israel-AS hari ini telah membuka kedok mereka: bukan pembela kebebasan, melainkan penjahat perang internasional.
Dunia harus mengakui kebenaran pahit—pelaku utama kekacauan bukan yang membalas, tapi yang memulai. Standar ganda Barat telah terbongkar. Dan api yang mereka nyalakan kini berkobar menjadi konflik international yang memangsa mereka sendiri.
![]() |
| img: tagar co |

