Fakta di Balik Legenda Naga

Kepercayaan pada Naga tak hanya berdasarkan legenda. Banyak juga orang dulu yang meyakini berdasarkan bukti kuat. Contohnya, selama ribuan tahun tak ada yang bisa menjelaskan tentang tulang-tulang raksasa yang ditemukan di seluruh dunia.


Dilansir dari laman Livescience, beberapa abad lalu desas-desus tentang Naga terkonfirmasi keberadaannya oleh saksi mata. Para pelaut yang kembali dari Indonesia melaporkan telah bertemu dengan mereka. Makhluk yang katanya sejenis kadal itu dapat menjadi agresif dan mematikan. Panjangnya sampai 10 kaki. Namun ternyata itu adalah komodo.

“Mirip dengan Naga, sebelumnya diyakini, gigitan Komodo sangat mematikan karena bakteri beracun di mulutnya,” jelas laman itu. “Meskipun mitos itu dibantah pada tahun 2013 oleh tim peneliti dari Universitas Queensland.”

Pada masa lalu, Naga kerap dipakai untuk menyebut hewan tak dikenal. Pada abad ke-16 misalnya, Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho sempat mengunjungi bagian utara Sumatra. Dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan (Xingcha Shenglan), dia menceritakan adanya sebuah pulau yang sering didatangi Naga. Pulau itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Naga-Naga yang ke sana meninggalkan liur yang tinggi nilainya di pasaran.

“Pada setiap musim semi beberapa ekor Naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga,” catatnya.

Rupanya, berdasarkan terjemahan W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, liur Naga itu adalah ambergris. Naga yang dimaksud tak lain merupakan paus.

Ma Huan juga menyebutkan keberadaan Naga dalam catatannya, Yingya Shenglan dari sekira 1416. Penerjemah resmi yang ikut berlayar bersama Cheng Ho itu menulis, di pesisir Man-la-ga (Melaka) ditemukan kura-kura dan Naga.

Naga itu suka menyerang manusia. Ia memiliki empat kaki. Rupanya, berdasarkan terjemahan Groeneveldt, Naga yang dimaksud adalah buaya.

“Seluruh tubuhnya ditutupi dengan sisik. Sederetan tanduk di punggungnya dengan kepala seperti Naga dan gigi yang keluar dari mulutnya. Jika bertemu manusia, Naga ini akan memakannya,” tulis Ma Huan.

Naga pada akhirnya mewujud dari gagasan yang mencontoh makhluk nyata. Itu dimulai dari ular atau reptile menakutkan lainnya. “Seiring waktu mereka pun memperoleh bentuknya sendiri dengan menyerap harapan dan imajinasi masyarakat setempat dengan meminjam sifat-sifat hewan yang nyata,” tulis Livescience.

0 Response to "Fakta di Balik Legenda Naga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel