Merinding!!! Penuh Aura Mistis, 3 Desa Mati dan Menyeramkan di Indonesia

Desa mati merupakan desa yang ditinggali penghuninya. Ada banyak alasan yang membuat warga desa meninggalkan tempat tinggal mereka, baik itu karena bencana alam, atau sengketa tanah yang tidak terselesaikan.

Apapun alasannya, desa yang ditinggalkan penguninya tersebut mengubahnya menjadi desa mati dengan suasana yang mencekam.

Di Indonesia sendiri diketahui ada beberapa desa mati yang terkenal lantaran suasana mistisnya. Berikut 5 desa mati terseram yang ada di Indonesia:

1. Desa Sidamukti, Majalengka Jawa Barat 

Sebelas tahun sudah, desa yang berada di Majalengka ini ditinggalkan oleh warganya. Hal ini dipicu karena sering terjadinya pergeseran tanah atau longsor di wilayah desa Sidamukti. Desa tersebut mulai rentan terkena longsor sejak 2001 silam, dan saat itu sudah bayak warga yang mulai mengungsi dan pergi dari desa tersebut.

Lalu pada 2012, terjadi gempa bumi dahsyat yang makin menghancurkan desa ini. Ratusan warga disebut mengungsi dan akhirnya membuat Desa Sidamukti seperti desa mati.

Karena banyaknya rumah yang ditinggalkan diwilayah tersebut selama bertahu-tahun lamanya, banyak bangunan yang terbengkalai bahkan tertimbun tanah akibat longsor. Akses jalan juga terlihat dipenuhi lumut dan semak belukar karena lama tak dilewati. Saking lamanya tak berpenghuni membuat desa Sidamukti menjadi mencekam. Hal ini justru mengundang rasa penasaran masyarakat yang ingin menguji nyali.

2. Kampung Mati Ponorogo

Beralih dari Jawa Barat menuju ke Jawa tengah, terdapat sebuah desa yang kondisinya tak jauh berbeda dari desa mati Sidamukti. Desa ini terletak di Dusun Krajan I, Dukuh Sumbulan, Desa Plalang, Kecamatan Jenangan, Kebupaten Ponorogo.

Sejak lima tahun lalu, tepatnya pada 2016, desa ini sepenuhnya ditinggali oleh penghuninya tanpa terkecuali. Dilansir dari kompas.com, Kepala Desa Plalangan, Ipin Herdianto membenarkan lingkungan itu sudah lima tahun terakhir tidak berpenghuni lagi. Padahal, di areal seluas sekitar tiga hektare itu masih terdapat empat bangunan rumah permanen yang masih layak huni. 

“Dahulu masih ada dua kepala keluarga. Tetapi, empat atau lima tahun lalu sudah tidak lagi tinggal di lingkungan tersebut,” kata Ipin, yang dihubungi Kompas.com, Kamis (4/3/2021).

Menurutnya, sebelum ditinggalkan warganya lingkungan tersebut dihuni oleh 30 kepala keluarga. Bahkan, kampung itu ramai dikunjungi orang karena menjadi tempat menimba ilmu agama warga di Desa Plalang. Namun, lambat laun, warga yang tinggal di kampung itu memilih pindah mengikuti keluarga di lokasi yang lain. 

Meski tidak berpenghuni, masih terdapat mushala tua yang masih dipakai warga untuk menjalankan ibadah shalat zuhur dan asar. Warga yang memanfaatkan mushala itu rata-rata petani yang memiliki sawah di dekat lingkungan tersebut.

“Mushala masih sering dipakai untuk beribadah. Dan selalu dibersihkan setiap hari,” kata Iping.

Ipin membantah bila warga meninggalkan kampung itu karena persoalan mistis. Ia meyakini seluruh tempat pasti memiliki cerita mistis masing-masing. Warga banyak meninggalkan kampung tersebut karena kondisinya sepi. 

"Dulunya banyak penghuninya. Karena tempatnya tidak ramai ada yang sudah nikah ikut pasangannya. Kemudian, yang punya anak ikut anaknya," kata Ipin.

Ipin mengatakan, sampai saat ini, belum ada satupun keluarga yang ingin kembali ke kampung mati tersebut. Sebab, warga yang pernah tinggal di lingkungan itu sudah banyak memiliki rumah sendiri.  

Meski ditinggalkan, keluarga yang memiliki aset tanah dan rumah sesekali datang ke kampung mati. Biasanya mereka menggelar acara peringatan hari wafatnya pendahulu warga yang meninggal di kampung tersebut.

3. Kampung Mati Vietnam, Jakarta

Masih di tanah Jawa, kali ini cerita desa mati terdapat di tengah hiruk pikuknya ibu kota. Kampung Mati Vietnam yang terletak di Kramat Jati, Jakarta Timur menjadi salah satu desa mati paling angker.

Menurut cerita, dulunya tempat ini menjadi saksi bisu pengungsian warga vietnam yang kemudian beralih fungsi menjadi panti jompo. Kampung mati dengan luas hampir 2,3 hektar ini kabarnya ditinggali oleh 17 kepala keluarga.

Seperti dilansir dari Tribunnews.com, salah seorang penjaga bangunan di lokasi tersebut, Lili Salwiji (61) menjelaskan mengenai kondisi lokasi tersebut.

“Saya ini di sini menjaga aset Pemda dan menghuni di sini sekitar tahun 1980-an. Dulunya itu ada penampungan panti jompo di TMII. Kemudian mengalami pelebaran jadi di pindah ke sini (Dukuh). Selanjutnya pada tahun 1977-an datanglah pengungsi Vietnam," ucap Lili.

Menurut Lili, saat itu pengungsi Vietnam tidaklah lama menempati lokasi tersebut. Karena sekitar tahun 1981, para pengungsi mulai meninggalkan lokasi. Namun untuk panti jompo masih tetap berjalan. Bahkan daya tampunya diperbanyak karena lokasi tersebut dijadikan kawasan percontohan panti jompo seluruh Indonesia.

"Dulu itu di sini sangat indah. Banyak tanaman dan perawatannya sangat baik. Kemudian berganti nama dari Sasana menjadi Panti Jompo dengan tampungan 200 orang dari tadinya 100 orang," ucapnya.

Beberapa bangunan yang tidak berpenghuni terbengkalai dibiarkan rusak hingga kondisinya sangat memprihatinkan.



Sumber Info : hype.grid.id

Cundelatoteh hanya memberikan informasi "Merinding!!! Penuh Aura Mistis, 3 Desa Mati dan Menyeramkan di Indonesia". Kami tidak menyediakan film disitus kami, kami hanya merekomendasikan situs untuk melihat "Merinding!!! Penuh Aura Mistis, 3 Desa Mati dan Menyeramkan di Indonesia", dan kami tidak bertanggung jawab atas segala risiko yang diakibatkan karena artikel ini.
Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact here.

0 Response to "Merinding!!! Penuh Aura Mistis, 3 Desa Mati dan Menyeramkan di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel